Sumber: DEMA FEBI UINSA


Almaslahah.com - (29/06/2022) – Dr. Sirajul Arifin, S.Ag., S.S., M.E.I., yang sebelumnya menjabat sebagai Wadek 1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), resmi dilantik sebagai Dekan FEBI periode 2022-2026 menggantikan Dr. H. Ah. Ali Arifin, M.M.. Pelantikan tersebut dilakukan di Gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya pada Kamis (23/06/2022).

Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya dalam kunjungannya setelah pelantikan menyampaikan harapannya kepada Bapak Sirajul Arifin selaku Dekan baru FEBI. “Kami sampaikan harapan yang besar kepada pimpinan yang baru, yaitu beliau Dr. Sirajul Arifin, S.Ag., S.S., M.E.I. Kami sampaikan harapan untuk FEBI yang jauh lebih baik kedepannya, kami ingin beliau bisa merangkul seluruh elemen mahasiswa FEBI, kami harap support sepenuhnya untuk segala bentuk aktivitas mahasiswa yang kita selenggarakan, karna akan lebih baik jika kita semua bisa berkolaborasi, dan tentunya mahasiswa berharap adanya transparansi antara dekanat dan mahasiswa agar bisa bekerja sama untuk membawa FEBI jauh lebih baik lagi”, Ucap Muhammad Syahri selaku Ketua DEMA FEBI UINSA.

Muhammad Irvan Maulana selaku wakil DEMA FEBI juga turut menyampaikan bahwa dengan terpilihnya Bapak Sirajul Arifin dapat membawa perubahan dan kemajuan kedepannya. “Semoga senantia diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan amanah selama satu periode, harapan besar pula kami layangkan kepada beliau, semoga atas terpilihnya beliau bisa membawa perubahan dan kemajuan, serta tercipta kolaborasi dan elaborasi antar elemen yang ada di FEBI, support serta bimbingan dari beliau pula kita nantikan agar tercipta inovasi-inovasi yang lebih baik kedepannya” ucapnya. 

Merespon harapan dari DEMA FEBI tersebut, Pak Sirajul Arifin mengharapkan kolaborasi dan inovasi dari jajaran pimpinan FEBI dan mahasiswa dalam menjalankan posisi saat ini. “Memang mengemban amanah sebagai Dekan ini adalah tanggung jawab yang berat. Tapi, dengan adanya kolaborasi dan inovasi antara jajaran pimpinan FEBI dan mahasiswa maka akan menjadikan amanah ini menjadi mudah untuk kita jalani” Ungkapnya.


 Sandiwara Tak Lagi Ada

oleh: Citra Nova Ramadhana

Langit malam terbentang megah bagai meraja

Diatas kesibukan para pemeran sandiwara

Diimbangi lingkaran bulan yang sempurna

Lengkap dengan bintang yang merata


Malam yang senyap dan sunyi

Tanpa suatu hal yang berarti

Bukankah seharusnya mereka Menepi?

Melepas topeng yang menutupi

Menghentikan sandiwara yang tak berarti

 

Untuk menikam malam yang sepi

Dengan sesuatu yang berarti?

Dengan mengaca diri

Didepan sang Ilahi Rabbi

Menembus tiap-tiap rahasia yang tersimpan abadi



Tamat

Kau tak punya sayap seperti malaikat

Anehnya membawaku terbang tak terhambat

Pergi jauh menuju alam sesat

Meracuniku hingga sekarat

Yang tadinya hanya sesaat

Namun tertancap amat lekat

Meninggalkanku tanpa sebait kalimat

Aku tersesat

Terjerat dalam pikat

Hitam amat pekat

Tamat



Mimpi

Sakit tak terobati

Tertikam bertubi-tubi

Luka sayat di dalam hati

Jerit tangis enggan berhenti

Tak pernah terhiraukan sesekali

Bayangmu semakin menjadi-jadi

Suaramu bersaut sautan diantara sunyi

Senyummu menjadi candu tak tertandingi

Namamu bersarang di dalam hati

Kau abadi di dalam halusinasi

sumber: rottentomatoes

Judul        : THE FLU (2013)

Tanggal Rilis : 14 Agustus 2013

Sutradara : Kim Sung-su

Produser : Kim Sung-jin, Seo Jong-hae, Jeong Hoon-tak, Im young-ju

Penulis naskah : Lee Yeong-jong, Kim Sung-su

Durasi : 121 menit

Produksi : iFilm Corp

       “The Flu” atau dalam bahasa Korea adalah Gambi merupakan film gubahan asal negeri ginseng yang telah dirilis sejak 2013. Walaupun demikian film ini tetap layak ditonton. Alur cerita ini  menggambarkan kekacauan di tengah penyebaran wabah flu hingga perjuangan bertahan hidup. Secara tidak langsung film The Flu ini bentuk representasi pada situasi di masa pandemi Covid-19.

        Berawal dari transaksi imigran gelap yang dilakukan di kota Bundang Korea Selatan. Seorang penyelundup, yang merupakan kakak beradik bernama Byung-ki dan Byung-woo, mendapati kontainer gelap mencurigakan. Setelah dibuka, container tersebut mengeluarkan bau tak sedap. Byung-woo ingin memastikan. Ia menyalakan senter dari ponselnya dan melihat sesisi kontainer dan ternyata container tersebut dipenuhi mayat yang mulai membusuk. Tanpa disengaja Byung-woo terjatuh sehingga tersentuh badan-badan mayat. Namun, ada salah satu seorang imigran yang masih hidup bernama Moonsai. Ia meminta tolong kepada Byung-ki dan Byung-woo untuk diselamatkan. Perasaan khawatir dan takut, keduanya merekam keadaan container tersebut lalu membawa Moonsai pergi bersama mobil mereka.

    Keesokan harinya, virus mulai menyebar ke penjuru kota Bundang. Seisi kota menjadi tidak terkendali. Banyak korban berjatuhan di jalan, rumah sakit penuh, tenaga medis kewalahan menangani pasien, dan warga melakukan penjarahan bahan pokok di supermarket. Di ketahui virus tersebut dibawa oleh Byung-woo yang telah bersentuhan dengan badan mayit di kontainer.

    Situasi semakin kalut, pemerintah mengambil tindakan tegas dengan menutup semua akses kegiatan. Kota Bundang diisolasi sehingga tidak ada yang keluar atau masuk dengan tujuan menghambat penyebaran virus flu. Sebelumnya, penerapan karantina yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik. Namun, penduduk mulai mengetahui bahwa pasien dengan positif virus flu tidak dirawat dengan baik melainkan ditempatkan di pembakaran manusia. Emosi memuncak dan seisi kota Bundang melakukan demontrasi di jalan perbatasan kota Seoul dan Bundang. Beberapa kali terjadi penembakan kepada warga yang memaksa melewati perbatasan.

    Gejolak yang terjadi antara warga dan tentara semakin kacau. Di sisi lain, adanya perdebatan antara petinggi politik dan medis yang masing-masing mencari kepentingan. Perwakilan PBB Snyder membawa misi untuk menyelamatkan masyarakat dunia dengan memusnahkan seluruh penduduk Bundang yang terinfeksi tanpa mempertimbangkan usaha tenaga medis yang kala itu mencari obat penawar virus. Hal tersebut tidak lazim. Rencana Snyder terhenti disaat Presiden Korea lebih mendukung tim medis untuk membuat vaksin. Tidak banyak hal yang harus dilakukan saat pandemi, kebingungan bercampur rasa panik dengan bayang-bayang kematian di depan mata. Keputusan yang bijak dalam menangani virus harus segera dilakukan untuk menyelamatkan seluruh penduduk bundang dan masyarakat dunia.

    Alur cerita ini semakin diperkuat dari kisah perjuangan seorang ibu, Dr. Kim In Hae, yang berprofesi sebagai tenaga medis yang sekaligus berperan sebagai orang tua pasien, sebab anaknya telah terinfeksi virus flu tersebut. Dr. Kim In Hae semakin dilema dengan profesinya harus menuntaskan para korban sebagai tenaga medis sekaligus ingin menyembunyikan kondisi anaknya. Bagian romantic tidak terlepas dari karakteristik film korea. Bukan tanpa sebab seorang pemadam kebakaran menolong anak Dr. Kim In Hae, yang mana hal tersebut adalah tanggung jawabmenyelamatkan orang lain sekaligus alasan utamanya ialah ia terpikat dengan Dr. Kim In Hae.

    Dengan durasi film 121 menit director film ini lebih banyak menampilkan sudut sifat asli manusia ketika dihadapkan kepanikan. Pandemi virus telah menjadi momok, tanpa diketahui darimana virus itu bermula, Korea Selatan juga berhasil menambahkan bumbu romantis di tengah kegelisahan kondisi wabah di dalam filmnya.

    Cerita yang sangat kompleks menampilkan beberapa poin dari sudut pandang berbeda cukup berhasil menginspirasi penonton, bagaimana kita bisa menilai atau setidaknya dapat belajar mengambil keputusan dari setiap pemerannya. Ada seorang pemeran yang memikiran dirinya sendiri, ada juga pemeran yang membuat kebijakan-kebijakan pemerintah, ada pemeran yang memikirkan keselamatan secara global, kemudian pemeran seorang ibu yang menyelamatkan anaknya yang terkena virus tanpa memedulikan dirinya sendiri, dan tentunya masih banyak hikmah yang dapat dipelajari dari film ini. Namun, bagi orang yang tidak terlalu suka dengan sentuhan melodrama akan merasa film ini terlalu mendramatisir suasana dibeberapa bagiannya dan dibagian akhir agaknya terlalu lama untuk waktu yang dibutuhkan dalam sampai pada klimaksnya.


(Sendy Setya Azzuri)

Diberdayakan oleh Blogger.