Sandiwara Tak Lagi Ada

oleh: Citra Nova Ramadhana

Langit malam terbentang megah bagai meraja

Diatas kesibukan para pemeran sandiwara

Diimbangi lingkaran bulan yang sempurna

Lengkap dengan bintang yang merata


Malam yang senyap dan sunyi

Tanpa suatu hal yang berarti

Bukankah seharusnya mereka Menepi?

Melepas topeng yang menutupi

Menghentikan sandiwara yang tak berarti

 

Untuk menikam malam yang sepi

Dengan sesuatu yang berarti?

Dengan mengaca diri

Didepan sang Ilahi Rabbi

Menembus tiap-tiap rahasia yang tersimpan abadi



Tamat

Kau tak punya sayap seperti malaikat

Anehnya membawaku terbang tak terhambat

Pergi jauh menuju alam sesat

Meracuniku hingga sekarat

Yang tadinya hanya sesaat

Namun tertancap amat lekat

Meninggalkanku tanpa sebait kalimat

Aku tersesat

Terjerat dalam pikat

Hitam amat pekat

Tamat



Mimpi

Sakit tak terobati

Tertikam bertubi-tubi

Luka sayat di dalam hati

Jerit tangis enggan berhenti

Tak pernah terhiraukan sesekali

Bayangmu semakin menjadi-jadi

Suaramu bersaut sautan diantara sunyi

Senyummu menjadi candu tak tertandingi

Namamu bersarang di dalam hati

Kau abadi di dalam halusinasi

sumber: rottentomatoes

Judul        : THE FLU (2013)

Tanggal Rilis : 14 Agustus 2013

Sutradara : Kim Sung-su

Produser : Kim Sung-jin, Seo Jong-hae, Jeong Hoon-tak, Im young-ju

Penulis naskah : Lee Yeong-jong, Kim Sung-su

Durasi : 121 menit

Produksi : iFilm Corp

       “The Flu” atau dalam bahasa Korea adalah Gambi merupakan film gubahan asal negeri ginseng yang telah dirilis sejak 2013. Walaupun demikian film ini tetap layak ditonton. Alur cerita ini  menggambarkan kekacauan di tengah penyebaran wabah flu hingga perjuangan bertahan hidup. Secara tidak langsung film The Flu ini bentuk representasi pada situasi di masa pandemi Covid-19.

        Berawal dari transaksi imigran gelap yang dilakukan di kota Bundang Korea Selatan. Seorang penyelundup, yang merupakan kakak beradik bernama Byung-ki dan Byung-woo, mendapati kontainer gelap mencurigakan. Setelah dibuka, container tersebut mengeluarkan bau tak sedap. Byung-woo ingin memastikan. Ia menyalakan senter dari ponselnya dan melihat sesisi kontainer dan ternyata container tersebut dipenuhi mayat yang mulai membusuk. Tanpa disengaja Byung-woo terjatuh sehingga tersentuh badan-badan mayat. Namun, ada salah satu seorang imigran yang masih hidup bernama Moonsai. Ia meminta tolong kepada Byung-ki dan Byung-woo untuk diselamatkan. Perasaan khawatir dan takut, keduanya merekam keadaan container tersebut lalu membawa Moonsai pergi bersama mobil mereka.

    Keesokan harinya, virus mulai menyebar ke penjuru kota Bundang. Seisi kota menjadi tidak terkendali. Banyak korban berjatuhan di jalan, rumah sakit penuh, tenaga medis kewalahan menangani pasien, dan warga melakukan penjarahan bahan pokok di supermarket. Di ketahui virus tersebut dibawa oleh Byung-woo yang telah bersentuhan dengan badan mayit di kontainer.

    Situasi semakin kalut, pemerintah mengambil tindakan tegas dengan menutup semua akses kegiatan. Kota Bundang diisolasi sehingga tidak ada yang keluar atau masuk dengan tujuan menghambat penyebaran virus flu. Sebelumnya, penerapan karantina yang dilakukan oleh pemerintah cukup baik. Namun, penduduk mulai mengetahui bahwa pasien dengan positif virus flu tidak dirawat dengan baik melainkan ditempatkan di pembakaran manusia. Emosi memuncak dan seisi kota Bundang melakukan demontrasi di jalan perbatasan kota Seoul dan Bundang. Beberapa kali terjadi penembakan kepada warga yang memaksa melewati perbatasan.

    Gejolak yang terjadi antara warga dan tentara semakin kacau. Di sisi lain, adanya perdebatan antara petinggi politik dan medis yang masing-masing mencari kepentingan. Perwakilan PBB Snyder membawa misi untuk menyelamatkan masyarakat dunia dengan memusnahkan seluruh penduduk Bundang yang terinfeksi tanpa mempertimbangkan usaha tenaga medis yang kala itu mencari obat penawar virus. Hal tersebut tidak lazim. Rencana Snyder terhenti disaat Presiden Korea lebih mendukung tim medis untuk membuat vaksin. Tidak banyak hal yang harus dilakukan saat pandemi, kebingungan bercampur rasa panik dengan bayang-bayang kematian di depan mata. Keputusan yang bijak dalam menangani virus harus segera dilakukan untuk menyelamatkan seluruh penduduk bundang dan masyarakat dunia.

    Alur cerita ini semakin diperkuat dari kisah perjuangan seorang ibu, Dr. Kim In Hae, yang berprofesi sebagai tenaga medis yang sekaligus berperan sebagai orang tua pasien, sebab anaknya telah terinfeksi virus flu tersebut. Dr. Kim In Hae semakin dilema dengan profesinya harus menuntaskan para korban sebagai tenaga medis sekaligus ingin menyembunyikan kondisi anaknya. Bagian romantic tidak terlepas dari karakteristik film korea. Bukan tanpa sebab seorang pemadam kebakaran menolong anak Dr. Kim In Hae, yang mana hal tersebut adalah tanggung jawabmenyelamatkan orang lain sekaligus alasan utamanya ialah ia terpikat dengan Dr. Kim In Hae.

    Dengan durasi film 121 menit director film ini lebih banyak menampilkan sudut sifat asli manusia ketika dihadapkan kepanikan. Pandemi virus telah menjadi momok, tanpa diketahui darimana virus itu bermula, Korea Selatan juga berhasil menambahkan bumbu romantis di tengah kegelisahan kondisi wabah di dalam filmnya.

    Cerita yang sangat kompleks menampilkan beberapa poin dari sudut pandang berbeda cukup berhasil menginspirasi penonton, bagaimana kita bisa menilai atau setidaknya dapat belajar mengambil keputusan dari setiap pemerannya. Ada seorang pemeran yang memikiran dirinya sendiri, ada juga pemeran yang membuat kebijakan-kebijakan pemerintah, ada pemeran yang memikirkan keselamatan secara global, kemudian pemeran seorang ibu yang menyelamatkan anaknya yang terkena virus tanpa memedulikan dirinya sendiri, dan tentunya masih banyak hikmah yang dapat dipelajari dari film ini. Namun, bagi orang yang tidak terlalu suka dengan sentuhan melodrama akan merasa film ini terlalu mendramatisir suasana dibeberapa bagiannya dan dibagian akhir agaknya terlalu lama untuk waktu yang dibutuhkan dalam sampai pada klimaksnya.


(Sendy Setya Azzuri)

sumber:detiknews

Penulis:

Uswatun Khasanah

UIN Sunan Ampel Surabaya


Sudah 3 tahun kita menjalani Bulan Ramadhan di tengah maraknya virus Covid 19. Tetapi untuk tahun ini virus tersebut tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah sudah mulai mereda, semoga tahun-tahun kedepannya kita bisa menjalankan ibadah puasa tanpa adanya virus Covid 19 ini. Meskipun kita tahu bahwa bulan suci Ramadhan kali ini bakal tidak semeriah tahun-tahun lalu tapi kita harus tetap semangat dan senantiasa berdoa agar virus ini cepat hilang dari bumi.

Bulan penuh pengampunan dan segala peribadatan dilipatgandakan ini tidak boleh samapi di sia-siakan. Meskipun masih terdampak wabah virus. Karna wabah virus ini juga berdampak terhadap kebiasaan dan ibadah kita setelah ada pembatasan sosial dalam segala hal. Padahal ketika bulan ramadhan kita banyak sekali kegiatan di luar rumah seperti buka bersama, berbagi kepada sesama bahkan sekedar belanja sehari-hari.

Di masa pandemi ini, tradisi diatas yang telah membudaya di masyarakat. Sedikit banyak akan terpengaruh. Mungkin sebagian besar waktu kita akan dihabiskan uuntuk beraktivitas di dalam rumah ( stay at home ) demi menghindari bahaya virus Corona. Tidak hanya ber aktivitas dirumah melainkan beribadah, bekerja, dan sekolah pun dirumah.

Tetapi untuk tahun ini Alhamdulillah semuanya perlahan sudah kembali normal, sekolah sudah mulai offline begitu juga dengan para pekerja. Sejak pandemi Covid 19 itu meraja lela di Indonesia, banyak sekali para pegawai yang kehilangan pekerjaannya padahal di situasi saat itu mereka sangat membutuhkan sekali pendapatan.

3 Tahun terakhir bulan Ramadhan tak Seindah Dulu

Di setiap bulan ramadhan, satu hal yang menjadi pencirinya adalah masjid-masjid ramai mengadakan talkim, melaksanakan tarawih berjamaah dan mengagendakan buka puasa bersama pun di luar rumah. Di sore hari akan ramai pasar-pasar yang banyak pedagang menjual makanan siap santap untuk berbuka puasa mulai dari berbagai macam es, gorengan, sayuran, ikan dll.

Inilah sebagian dari kebiasaan-kebiasaan kita yang dirindukan. Tidak hanya itu, di tahun-tahun sebelumnya pasti setiap menjelang liburan diantara kita ada yang mudik ke kampung halaman, tetapi sejak adanya pandemi ini kita jadi tidak bisa mudik. Untuk tahun ini dan tahun kemarin sudah di perbolehkan mudik asal sudah mematuhi peraturan yaitu vaksin. Tahun ini untuk kita yang mau mudik harus vaksin ke 3 yaitu booster itulah yang menjadi persyaratan supaya kita bisa mudik ke kampung halaman yang sangat di rindukan.

Karena keadaan juga sudah mulai membaik, kegiatan ibadah haji dan umroh pun sudah mulai dibuka kembali, setelah beberapa tahun ditutup karna wabah tersebut.

Saatnya Membenahi Diri

Jika kita hubungkan fenomena ini dengan realitas teologis, kita tidak cukuup hanya menyalahkan pandemi Corona ini. Mau tidak mau kita harus bertanya kepada diri sendiri apakah ada kesalahan-kesalahan kita selama ini sebagai manusia beriman. Kita harus selalu mengintrospeksi diri. Bisa jadi wabah ini adalah bentuk teguran Tuhan kepada kita. Ustadz Zaini ketika menyampaikan tausiyah pada saat di desa Ngigas pernah mengatakan bahwa, "Jangan salahkan corona jika masjid ditutup. Bermuhasabahlah kita. mungkin karena sudah teramat sering kita tidak mauu berjamaah dengan berbagai alasan keduniawian. Jangan salahkan corona jika jumatan ditiadakan. Bermuhasabahlah kita, mungkin karena setiap hadir jumatan kita ketiduran. Nasehat khutbah diabaikan."

Itu nasihatnya yang membuat hati kita terenyuh jika diresapi dengan penuh penghayatan. Ia mengandung pesan-pesan introspeksi diri agar di setiap ibadah kita meniatkan ketaatan dengan ikhlas  hanya untuk Allah SWT. Diluar dan didalam bulan Ramadhan. Sehingga tidak sepatutnya ibadah-ibadah kita terjerembab dalam kesibukan dunia.

Dengan demikian, marilah kita kembali menyapa bulan Ramadhan. Kita patut menyambutnya dengan penuh kegembiraan karena Allah SWT. Masih memberikan kesempatan kepada kita untuk membersihkan diri kita. inilah saat yang tepat untuk mensucikan diri atas segala dosa yang telah kita perbuat selama setaun terakhir. Manfaatkan setiap bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya, belum tentu tahun depan kita masih bisa menjumpai bulan Rmadhan yang penuh berkah ini.

 

 

Sidoarjo, 18 April 2022

 

 

Diberdayakan oleh Blogger.